Manajemen Kepemimpinan
a. Kapan sebuah organisasi dapat dikatakan telah berhasil? Ketika tujuan pendirian organisasi
tersebut telah tercapai
b. Bagaimana caranya agar tujuan organisasi tersebut dapat
tercapai? Dengan
manajemen yang tepat dan efektif
c. Apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin jika organisasi
yang dipimpin mengalami kevakuman atau mandeg?
d. Bagaimana cara merangkul bawahan agar visi (tujuan) yang telah
dirumuskan tercapai? Pendekatan Persuasif
A. Pengertian
Manajemen
Manajemen (Management),
istilah manajemen ini sebenarnya berasal dari bahasa latin / italia yaitu: “menagio” yg artinya: menyiapkan
& mengendalikan kuda. Selanjutnya istilah ini dipakai dalam pelaksanaan
organisasi terutama organisasi non pemerintahan / publik di Amerika Serikat. Sedangkan
di Perancis & di Eropa banyak dipakai istilah administrasi “administration”. Namun kedua
istilah ini sering dipakai secara bersamaan dengan tujuan yg sama.
Manajemen Adalah Ilmu
dan seni mengatur pemanfaatan SDM dan sumber lainya secara efektif dan efesien
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. ( Hasibuan ) Manajemen adalah kegiatan
untuk Memprediksi, merencanakan,
mengkordinasikan,dan mengendalikan ( Fayol ). Manajemen dapat di artikan sebagai ilmu dan
seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Para ahli ekonomi umumnya mempunyai
pengertian yang berbeda tantang manajemen. Dengan demikian sebenarnya manajemen
itu hampir selalu ada pada setiap kegiatan manusia sebab manusia akan selalu
berusaha berkumpul dan bekerja sama.
Fungsi manajemen adalah
elemen dasar yang selalu ada dan melekat dalam proses manajemen yang akan
dijadiakan acuan oleh manajer/pemimpin dalam melaksanakan kegiatan untuk
mencapai tujuan. Fungsi manajemen dapat dilakukan di organisasi manapun.
Proses manajemen didefinisikan sebagai
aktivitas-aktivitas:
»
Perencanaan, formulasi terinci
untuk mencapai suatu tujuan akhir tertentu adalah aktivitas manajemen yang
disebut perencanaan. Oleh karenanya, perencanaan mensyaratkan penetapan tujuan
dan identifikasi metode untuk mencapai tujuan tersebut.
»
Pengendalian, perencanaan hanyalah
setengah dari pertempuran. Setelah suatu rencana dibuat, rencana tersebut harus
diimplementasikan, dan Pemimpin dan bawahannya harus memonitor pelaksanaannya
untuk memastikan rencana tersebut berjalan sebagaimana mestinya. aktivitas manajerial untuk
memonitor pelaksanaan rencana dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan,
disebut kebutuhan.
»
Pengambilan Keputusan, proses pemilihan
diantara berbagai alternative disebut dengan proses
pengambilan keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan jalinan antara
perencanaan dan pengendalian. Manajer harus memilih diantara beberapa tujuan
dan metode untuk melaksanakan tujuan yang dipilih. Hanya satu dari beberapa
rencana yang dapat dipilih. Komentar serupa dapat dibuat berkenaan dengan
fungsi pengendalian.
B. Pengertian
Kepemimpinan
Stephen Robbins Kepemimpinan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai serangkaian tujuan.
Kata “kemampuan”, “pengaruh” dan “kelompok” adalah konsep kunci dari definisi Robbins.
Kepemimpinan adalah suatu kondisi sebagai hasil suatu proses
interaksi atau mempengaruhi antara pemimpin, pengikut & situasi.
Proses interaksi terjadi terus-menerus sehingga kepemimpinan bukan suatu yg
sederhana, tetapi sesuatu yg kompleks. Dari 3 hal tersebut, pemimpin mempunyai
peran yg sangat penting karena mempunyai kelebihan terhadap pengikutnya &
mempunyai kemampuan untuk membuat situasi kondusif atau sebaliknya.
Kepemimpinan sebagai suatu seni (artistry)
selain pengetahuan atau ketrampilan. Dari makna kepemimpinan diatas dapat ditarik
sejumlah konsep penting yaitu:
- Kepemimpinan merupakan sebuah,
- Kepemimpinan melibatkan pengaruh,
- Kepemimpinan muncul dalam kelompok,
- Kepemimpinan mellibatkan tujuan bersama.
C. Pandangan Kepemimpinan
· Seorang yang belajar seumur hidup, Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya,
belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai
pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
· Berorientasi pada pelayanan, Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip
pemimpin dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam
memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang
baik.
· Membawa energi yang positif, Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi
yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan
orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik.
Seorang pemimpin harus dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan
kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus dapat
menunjukkan energi yang positif.
· Percaya pada orang lain, Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf
bawahannya, sehingga mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan
yang baik. Oleh karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
· Keseimbangan dalam kehidupan, Seorang pemimpin
harus dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan
dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi.
Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan akherat.
· Melihat kehidupan sebagai tantangan, Kata ‘tantangan’ sering di interpretasikan
negatif. Dalam hal ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan
segala konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan,
mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung
pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan
kebebasan.
· Sinergi,
Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis
perubahan. Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi
adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New
Brolier Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok,
yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan.
Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang atasan, staf,
teman sekerja.
· Latihan mengembangkan diri sendiri, Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai
keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses. Proses
daalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan
dengan:
ü Pemahaman
materi;
ü Memperluas materi
melalui belajar dan pengalaman
ü Mengajar materi kepada
orang lain;
ü Mengaplikasikan
prinsip-prinsip;
ü Memonitoring
hasil;
ü Merefleksikan kepada
hasil;
ü Menambahkan pengetahuan
baru yang diperlukan materi;
ü Pemahaman baru;
dan
ü Kembali menjadi diri
sendiri lagi.
Mencapai kepemimpinan
yang berprinsip tidaklah mudah, karena beberapa kendala dalam bentuk kebiasaan
buruk, misalnya:
- Kemauan dan keinginan sepihak;
- Kebanggaan dan penolakan; dan
- Ambisi pribadi.
D. Jenis – Jenis
Kepemimpinan
Menurut Hasibuan (2002) Ada beberapa jenis
kepemimpinan yang antara lain adalah:
1. Kepemimpinan Otoriter
Adalah jika kekuasaan atau
wewenang sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau pimpinan itu
mengganti sistem sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijakan
hanya ditetapkan sendiri oleh pimpinan.
Kepemimpinan otokratis memiliki
ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang
harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal, (3)
berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan kebijakan selalu
ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail
tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua pujian dan kritik
terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi, (7) adanya
sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara absolut, (9) sikap dan
prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan
bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
2. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan
karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa
untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar
jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik
dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan
yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa.
Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan
teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan
pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
3. Tipe Kepemimpinan
Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan
paternalistik
lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat
sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang
tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka
bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada
bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah
memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif, (5) mereka memberikan
atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk
mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri, (6) selalu
bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe
kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan
paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat
sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol
disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.
4. Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini
sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe
kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem
perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang
bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi
formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan,
(4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak
menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6)
komunikasi hanya berlangsung searah.
5. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan
demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien
kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan,
dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan
kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada
pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga
kelompok.
Kepemimpinan demokratis
menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti
bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya
masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin
pada saat-saat dan kondisi yang tepat.