Hubungan Perdangan Banten dan Lampung Dari Masa ke Masa
PENDAHULUAN
Author: Mr. M
A. Latar Belakang Masalah
Nusantara adalah sebuah wilayah yang telah berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional, karena sudah memiliki perniagaan regional dan internasional, adanya kontrol terhadap labour dan hasil tanah serta sudah memilki legitimasi kekuasaan raja-raja di masing-masing wilayah yang ada di Nusantara. Kedatangan Bangsa Barat pada saat itu terdapat dua jalur perniagaan internasional yang dilakukan oleh para pedagang, yaitu:
- Jalur perniagaan melalui darat atau lebih dikenal dengan “jalur sutra” (silk road) yang dimulai dari daratan Tiongkok (Cina) melalui Asia Tengah, Turkistan hingga ke Laut Tengah. Jalur ini juga berhubungan dengan jalan-jalan yang dipergunakan oleh Kafilah India. Jalur ini merupakan jalur paling tua yang menghubungkan antara Cina dan Eropa.
- Jalur perniagaan melalui laut yang dimulai dari Cina melalui laut Cina kemudian selat Malaka, Calicut (India), lalu ke Teluk Persia melalui Syam (Suriah) sampai ke Laut Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju Laut Tengah.
Melalui jalur perniagaan laut komoditi ekspor dari wilayah Nusantara menyebar di pasaran India dan Kekaisaran Romawi (Byzantium) yang terus menyebar ke wilayah Eropa. Komoditi ekspor tersebut antara lain terdiri atas rempah-rempah, kayu wangi, kapur barus dan kemenyan. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 mengakibatkan pergeseran pusat perdagangan di Asia Tenggara yang sebagian ke Arah Utara (Aceh) dan sebagian lagi ke Selatan (Banten). Akibat dari penaklukan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 maka jalan dagang yang semula dari laut Jawa ke Utara melalui Selat Karimata pindah melalui Selat Sunda, perpindahan jalan dagang itu adalah akibat permusuhan antara pedagang–pedagang Islam dengan Portugis.[1]
Salah satu pelabuhan yang terkenal di Nusantara yaitu Banten, karena Banten termasuk pelabuhan yang sudah memiliki tiga faktor penting di dalamnya yang membuat Banten menjadi wilayah perdagangan internasional. Secara geografis Banten terletak di ujung Pulau Jawa, antara Selat Sunda dengan Laut Jawa dan daerah perbatasan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan, oleh karena itu Banten dianggap sebagai salah satu pelabuhan perdagangan terpenting antara negara-negara di Asia Selatan dengan Cina. Sebagai pelabuhan terpenting di Asia Tenggara, tentunya banyak berkumpul pedagang-pedagang asing dan barang-barang dagangannya, sekaligus sebagai tempat pertukaran informasi baik kebudayaan maupun pengetahuan antara bangsa-bangsa dari penjuru dunia yang singgah di Banten.
Banten merupakan kerajaan bercorak maritim yang menitikberatkan kehidupan ekonomi pada perdagangan dan pelayaran, maka kekuasaan politik maupun ekonomi dipegang oleh kaum ningrat yang mendimonasi perdagangan sebagai pemberi modal. Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran merupakan sendi-sendi kekuasaan mereka yang ingin memungkinkan kerajaan memperoleh panghasilan pajak yang besar.[2] Perkembangan ekonomi Banten cukup cepat karena selain letaknya yang strategis juga banyak menarik komoditi rempah- rempah dari berbagai daerah ke pelabuhannya untuk diekspor, hal ini membuat Banten semakin dikenal. “Banten menarik perdagangan lada dari Indrapura, Lampung dan Palembang sedangkan produksi ladanya sendiri sebenarnya kurang berarti”.[3]
Banten merupakan kota pusat pemerintah Kerajaan Islam dan pusat perdagangan lokal, interlokal maupun internasional yang sekaligus juga sebagai kota konsumtif dan produktif yaitu pusat ibadah, pusat administrasi dan perdagangan.[4] Seiring dengan peningkatan kegiatan ekonomi yang mendatangkan kemakmuran sekaligus kekuatan negara, Kesultanan Banten setahap demi setahap berupaya memperluas wilayah untuk kegiatan ekonominya ke daerah sekitarnya yang dipandang dapat menguntungkan perekonomian dan suatu waktu membahayakan eksistensi negara. Salah satu komoditi ekspor yang banyak diminati pada saat itu adalah lada, naik turunnya harga komoditi ekspor seperti lada ini mendapatkan pengaruh dari kebijaksanaan harga yang ditentukan oleh pihak kerajaan. Tingginya permintaan lada di pasar membuat Banten mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda. Hal ini mendorong Banten mengadakan ekspansi ke daerah-daerah penghasil lada seperti Lampung, Selebar dan Bengkulu untuk memenuhi permintaan pasar.
Abad XV Banten mulai menjalin hubungan kerjasama dan memperluaskan kegiatan ekonominya ke daerah Lampung. Lampung pada saat itu (abad ke XV), bukan merupakan suatu kerajaan atau suatu kesatuan daerah yang dikuasai oleh seorang raja atau ratu, yang ada hanyalah kesatuan-kesatuan kemasyarakatan kecil yang disebut kebuayaan. Daerah Lampung, ketika itu pemerintahannya masing–masing dipegang oleh Kepala Adat Kekerabatan. “Kebuayaan merupakan tempat pemusatan berkumpulnya kerabat yang berasal dari satu pertalian darah atau keturunan”.[5]
Penguasaan Kesultanan Banten atas Lampung dapat dilacak dari situasi internal masyarakat Lampung. Setelah keruntuhan Kerajaan Tulang Bawang, tidak ada lagi otoritas politik yang berkuasa. Pemerintahan telah berganti dalam bentuk keratuan. Pada tahun 1530, Lampung terbagi atas wilayah keratuan (persekutuan hukum adat) yang terdiri atas Keratuan di puncak menguasai wilayah Abung dan Tulang Bawang, Keratuan Pemanggilan berkuasa di Krui, Ranau, dan Komering; Keratuan di Pugung menguasai wilayah Pugung dan Pubian; serta Keratuan di Balaw berkuasa di Teluk Betung. Ketika Banten menguasai Lampung, Keratuan di Pugung dibagi menjadi Keratuan Maringgai (Melinting) dan Keratuan Darah Putih (Kalianda).[6]
Pada abad ke-17-18 penguasa keratuan membentuk pemerintahan persekutuan adat berdasarkan buay (keturunan) dikenal dengan paksi (kesatuan buay inti atau klan) dan marga yang merupakan kesatuan bagian dari buay atau jurai dalam bentuk kesatuan kampung atau suku. Daerah Lampung, ketika itu pemerintahannya masing-masing dipegang oleh Kepala Adat Kekerabatan. “Kebuayaan merupakan tempat pemusatan berkumpulnya kerabat yang berasal dari satu pertalian darah atau keturunan”.[7] Terpencarnya masyarakat dalam kekerabatan yang kecil ini sebenarnya memudahkan Banten untuk menanamkan pengaruhnya di Lampung. Perluasan daerah untuk meningkatkan kegiatan ekonominya, yang dilakukan Banten itu bersamaan dengan mempererat hubungan kekerabatan dan penyebaran Agama Islam.
Sultan Hasanuddin bersama Ratu Balo dan Ki Jonglo melakukan perjalanan ke Lampung, Indrapura, Selebar dan Bengkulu. Raja Indrapura mempersembahkan seorang anak perempuannya. Perkawinan Hasanuddin dengan puteri Raja Indrapura mendapatkan seorang anak Laki-laki yang bernama Pangeran Wetan. Sebelumnya Fatahillah ayah dari Sultan Hasanuddin sudah melakukan terlebih dahulu perkawinan politik dengan putri dari Minak Raja Jalan dari Keratuan Puggung yang bernama Putri Sinar Alam. Hubungan kekerabatan yang terjalin antara Banten-Lampung tersebut diukir di sebuah piagam yang diberi nama Piagam Kuripan.
Sebagai wilayah yang dikuasai, Sultan Banten melakukan eksploitasi ekonomi, khususnya dalam tata niaga lada. Penarikan lada dari Lampung terus diintensifkan. Kebijakan ini dilakukan sultan setelah produksi lada di Banten mengalami penurunan pada abad ke-17, sementara kebun lada di Lampung terus bertambah Sultan mengeluarkan berbagai piagam (pijagem) yang berisi sejumlah peraturan yang mengikat. Pada tahun 1653 Sultan Ageng mengeluarkan peraturan yang mewajibkan penduduk Lampung menanam lada 500 pohon per orang, dan menjualnya pada pembeli tanpa memandang kebangsaannya. Orang Jawa, Cina, Inggris, atau Belanda dapat membeli lada secara bebas.[8]
Sultan mengeluarkan Piagam Sukau yang berhurup Lampung dan berbahasa Jawa Banten bertahun 1104 H (1684 M). Piagam tersebut berisi kewenangan Sultan Banten mengangkat dan memecat kepala-kepala daerah. Orang Lampung diwajibkan mengumpulkan lada, khususnya orang cilik serta segenap punggawa diharuskan menanam merica sebanyak 500 pohon setiap orang, termasuk seluruh penduduk yang telah berusia 16 tahun. Prasasti yang berasal dari Bojong berhuruf Arab tertanggal 30 Jumadil Akhir 1102 H (1691 M) berisi aturan perdagangan lada di Lampung. Penjualan lada harus di bawah kontrol Sultan Banten.
Penjualan lada bukan hanya diawasi, bahkan sultan pula yang memutuskan kepada siapa lada dijual. Pelanggaran terhadap kebijakan tersebut dikenakan sanksi berupa penahanan dan pengusiran. Cukup banyak piagam atau prasasti yang mengatur tata niaga lada, di antaranya prasasti berangka tahun 1746, 1761, dan 1777.[9] Sebagai bentuk pengendalian terhadap tata niaga lada, penguasa Banten menempatkan jenjen (jinjam atau jenang) di Semangka (Kota Agung). Karena hanya berurusan dengan soal lada, jenjen tidak mencampuri urusan pemerintahan. Dengan posisi demikian, elit lokal Lampung yang terpencar-pencar yang disebut “adipati” secara hirarkis tidak berada di bawah perintah jinjam.[10] Tugas utama jenjen adalah mengelola penerimaan lada dari Lampung dan mendistribusikannya ke Bandar Banten. Selanjutnya, Sultan Banten menugaskan para punggawa sebagai wakilnya di Tulang Bawang, Sekampung, dan Semangka.[11]
Pengaruh Banten terhadap Lampung, sebagai daerah pemasok lada terbesar ini sangat dominan. Permintaan akan lada meningkat, sehingga perdagangan komiditi ini memberikan laba yang sangat besar. Karena itu Sultan Banten mengadakan monopoli perniagaan terhadap bahan rempah ini. Tindakan serupa itu agaknya terjadi pula di Aceh, sehingga dapat dikatakan monopoli perdagangan lada di Sumatera Selatan dan daerah Banten dipegang oleh Sultan Banten, sedangkan Sumatera Utara dan sekitarnya di bawah Sultan Aceh. Pedagang-pedagang dari Eropa Seperti Inggris, Spanyol, Belanda dan Portugis serta pedagang dari India, Cina, Arab dan sebagainya berdatangan ke Banten untuk mencari lada. Perdagangan lada memberikan kekayaan serta para bangsawan, saudagar menjadi kaya, malahan tidak sedikit diantaranya yang berhasil memiliki rumah mewah, kapal serta budak. Lampung dan Banten sangat erat hubungannya tidak hanya dalam ikatan kekerabatan namun dari segi daerah juga sangat dekat hanya dibatasi dengan selat sunda. Banten ke Lampung awalnya hanya untuk membuka ladang untuk ditanami lada ataupun hanya mengontrol tananman ladanya,
tetapi kemudian mereka membentuk kampung-kampungnya sendiri dan menetap di daerah Lampung. Dari adanya hubungan kekerabatan antara Banten dan Lampung, maka Sultan Hasanuddin dan Ratu Darah Putih membuat perjanjian Dalung Kuripan (Piagam Kuripan) dalam bentuk piagam tembaga. Struktur pemerintahan Lampung yang tidak beda jauh dengan struktur pemerintahan Banten, pengaruh Banten yang semakin kuat terhadap Lampung dapat dilihat dari adat istiadat dan atribut yang memperlihatkan pengaruh Banten. Pengaruh Banten membawa perubahan yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Lampung.
Penguasa Banten memberikan Piagam Dalung (tamra prasasti) yaitu sebuah piagam yang berisi tentang peraturan membuat peraturan untuk mengatur daerah Lampung. Untuk mengatur hak atas tanah pada masa itu di daerah Lampung para umpu yang memimpin kebuayan bermufakat untuk mengakui lima keratuan yang berhak atas tanah dan pemerintahan kebuayan di seluruh Lampung. Adapun lima keratuan ini masing-masing diatur dan dipimpin oleh para Ratu dan Umpu yang dipilih berdasarkan asas primus inter pares.[12]
B. Identifikasi Masalah
Berdirinya kesultanan Banten dan dinobatkannya Sultan Maulana Hasanuddin menjadi sultan Banten dengan gelar penembahan surosowan, maka selanjutnya Sutan Mulana Hasanuddin menunjungi bagian Selatan Sumatera (Lampung, Selebar, Bengkulu, dan Indrapura). Hubungan Lampung dan Banten sudah berlangsung dalam periode panjang. Pada masa penyebaran Islam di Indonesia, daerah Lampung masuk dalam pengaruh agama Islam yang disebarkan oleh Syarif Hidayatullah. Masuknya Islam ke Lampung tidak banyak membawa ketegangan dan permusuhan karena dilakukan dengan damai.[13] Pada masa pemerintahan Sultan Muulana Hasanuddin, Banten mempertluas wilayah kekuasaannya ke Lampung dan daerah sekitarnya.
Di wilayah Lampung ini di temukan beberapa prasasti dan bukti-bukti lainnya yang mengukuhkan eksistensi kekuasaan Banten dan Lampung. Prasasti yang ditemukan di Lampung berhuruf Arab Pegon dan berbahasa Banten yang menunjukan kuatnya pengaruh Banten ketika penyebaran agama Islam ke wilayah Lampung. Islam masuk ke daerah Lampung sekitar abad ke-16, yaitu saat Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak memperluas pengaruhya di daerah bagian Barat.[14]
Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Lampung, Fatahillah pernah melakukan perjalanan ke Lampung.[15] Fatahillah menikahi Putri Sinar Alam dari Keratuan Pugung. Dalam hubungan penyebaran Islam ini, perkawinan merupakan wahana yang efektif untuk integrasi sosial maupun politik. Secara tidak langsung perkawinan Fatahillah dengan Putri Kerauan Pugung memperkuat posisi Kesultanan Banten. Hubugan baik antara Lampung dan Cirebon terus berlanjut pada saat penaklukan daerah Banten. Perjuangan Fatahillah di daerah Banten dilanjutkan oleh putranya Sultan Maulana Hasanuddin.
Setelah Selat Malak jatuh ketangan Portugis pada tanhun 1511, jalur perdagangan melalui Aceh dan Selat Sunda semakin ramai. Pedagang muslim yang jelas-jelas tidak menyukai Portugis mengalihkan transaksi komoditasnya ke Utara (Aceh) dan keselatan (Pelabuhan Banten). Bandar Banten menjadi bertambah strategis ketika terjadi penghancuran kota-kota pelabuhan di pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kafilah dagang tidak memiliki persinggahan di pantai Utara jawa, selain itu, posisi Banten yang jauh dari Mataram membuat kemungkinannya diserang lebih relativ kecil. Perdagangan lada berimbas pada meningkatnya penjualan komoditas lainnya. Pada pedagang asing tidak hanya terlibat jual beli lada, juga menjual komoditas lainnya. Sejarah Lampung tidak lepas kaitannya dengan sejarah Banten, terutama Banten pada masa kesultanan. Hal ini berhubungan dengan urusan perdagangan lada, daerah Bumi Lampung merupakan penghasil utama lada bagi Banten.[16] Lampung sudah lama dikenal sebagai penghasil komoditas lada yang penting di Nusantara.
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Sejarah hubungan Lampung dan Banten juga tercatat dalam buku kuno Lampung yakni buku Kuntara Raja Niti yang menyebutkan bahwa si Pandan anak dari Ratu Pemanggilan/Umpu Serunting (beranak 6 orang) menghilang ternyata muncul di Banten keturunannya/Buai Pandan bersama dengan kebuaian lain membantu Banten dari keturunannya/Buai Pandan sewaktu menaklukkan Pakuan di Jawa Barat. Hubungan perdagangan dari hasil bumi ini terus berlanjut dan berkembang. Pada akhirnya Sultan Maulana Hasanudin yang merupakan Sultan pertama Kerajaan Banten mulai menyebarkan Agama Islam di daerah Lampung. Sementara itu mulailah rakyat Banten ber-imigrasi ke daerah Lampung, untuk mencari lahan dan sumber penghasilan kebanyakan dari mereka mengusahakan perkebunan lada dan penjualannya.[17]
Banten cukup banyak memberikan pengaruh kepada para punyimbang adat (ketua-ketua adat) Lampung untuk melakukan perpindahan ke Banten. Semua itu merupakan tanda akan pengakuan masyarakat Lampung terhadap hubungan persahabatan dengan Banten dan sebagai tanda pengakuan masyarakat Banten terhadap Lampung maka Sultan Banten memberikan piagam kepada para pemimpin daerah Lampung, dalung/tamra yaitu piagam yang ditulis di atas lempengan tembaga. Piagam ini ditulis dengan Huruf Arab dan Huruf Lampung serta mempergunakan Bahasa Jawa Banten.
Dalam hubungan politik pemerintahan Lampung dengan pemerintahan Banten sangat erat dikarenakan menggunakan sistem pemerintahan yang sama, Banten dan Lampung yang merupakan samasama daerah maritim yang kehidupannya menitik beratkan pada pelayaran dan perdagangan maka kekuasaannya dipegang oleh kaum ningrat. Dalam segi politik hubungannya dikoordinir kepemimpinannya dengan oleh Minak Paduka selaku Punggawa dari Banten. Segala sesuatuna diatur berdasarkan musyawarah punyimbang yang memegang kekuasaan tertinggi. Pengaruh Banten yang cukup kuat di Lampung dapat dilihat juga pada saat penyimbang ketua-ketua kebuwayan di Lampung untuk melakukan seba (menghadap) ke Banten. Pada abad ke-15 penggawa yang seba ke Banten selain untuk belajar Agama Islam dan juga bertujuan untuk meminta pengesahan bagi mereka untuk secara sah menjadi Penguasa di daerah tertentu di Lampung.[18]
1. Bagaimana kondisi Kesultanan Banten dan Lampung abad XVII?
2. Bagaimana sejarah hubungan Kesultanan Banten dan Lampung abad XVII?
3. Bagaimana hubungan Kesultanan Banten dan Lampung dalam bidang politik dan ekonomi abad XVII?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sesuai perumusan masalah di atas, tujuan yang ingin di capai dalam penelitian sejarah adalah untuk mengetahui:
1. Kondisi sosial Kesultanan Banten dan Lampung abad XVII
2. Sejarah hubungan Kesultanan Banten dan Lampung abad XVII
3. Hubungan Kesultanan Banten dan Lampung dalam bidang politik dan ekonomi abad XVII
Secara umum diharapkan adanya penelitian mengenai hubungan Kesultanan Banten dan Lampung dalam bidang politik dan ekonomi abad XVII dapat dikenal oleh masyarakat pada umumnya, sebagai salah satu sejarah penting di nusantara.
E. Review Kajian Terdahulu
Penelitian mengenai hubungan Kesultanan Banten dan Lampung tidaklah banyak. Namun, ada beberapa sumber yang tertulis untuk menggambarkan bagaimana hubungan Banten dan Lampung dalam bidang ekonomi dan politiknya. Ada pun beberapa sumber buku dan jurnal berikut ini yang bisa di ajukan sebagai sumber tertulis dalam penelitian tersebut.
- Halwany Michrob dalam bukunya Ekspor Impor di Jaman Kesultanan Banten dan Catatan Sejarah Dan Arkeologi Ekspor Impor Cet Ke-2, yang mecoba untuk meneliti bagaimana sejarah ekonomi Banten yang saat itu sudah banyak menjalin hubungan ekonomi dengan beberapa daerah di Indonesia, termasuk Lampung yang menjadi ekspansi Banten dalam bidang ekonomi. Karena Lampung merupakan salah satu daerah penghasil lada dengan jumalah yang hampir sama dengan Banten.
- Iim Imaduddin, Hubungan Lampung Dan Banten Dalam Perspektif Sejarah, Jurnal Penelitian, Vol. 40, No, 30, Desember 2008. Dalam jurnal ini dijelaskan mengenai hubungan sejarah Lampung dan Banten. Dalam pembahasannya dijelaskan pula bagaimana hubungan politik dan ekonomi di kedua daerah tersebut Lampung dan Banten.
- Hilman Hadikusuma dalam bukunya Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Menjelaskan bagaimana adat dan budaya masyarakat Lampung yang mendapat pengaruh dari Banten, sehingga hubungan Banten dan Lampung bukan hanya terjalin dalam bidang ekonomi, politik, tetapi juga dalam bidang sosial-budayanya.
- Iim Imadudin, Perdagangan Lada Di Lampung Dalam Tiga Masa (1653-1930). Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, Patanjala Vol. 8 No. 3 September 2016. Dalam jurnal ini dijelaskan bagaimana perdagangan di Lampung dalam tiga masa, salah satunya adalah masa hubungan perdagangan dengan Banten, yang saat itu bisa dikatakan sebagai masa dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat.
- Heriyanti Ongkodharma Untoro, dalam disertasinya yang berjudul Perdagangan di Kesultanan Banten (1522-1684). Menjelaskan bagaimana sistem ekonomi di Kesultanan Banten, dari awal abad ke-16 hingga akhir abad ke-17.
- Mulianti, Ali Imron, Wakidi, menulis sebuah artikel mengenai Tinjauan Historis Hubungan Banten dan Lampung Pada Tahun 1525-1619.
- Riza Fitriani, Iskandar Syah, Muhammad Basri, Tinjauan Historis Perjanjian Lampung-Banten Yang Menghasilkan Piagam Kuripan Tahun 1552. Dalam artikel ini dijelaskan bagaimana hubungan Banten dan Lampung tertulis dalam sebuah piagam perjanjian yang pernah dibuat oleh Kesultanan Banten, dalam sistem ekonomi di Lampung.
Dengan adanya review kajian terdahulu dapat menjadi mejadi acuan dalam penelitian mengenai sejarah hubungan Banten dan Lampung dalam bidang politik dan ekonomi.
F. Landasan Teori dan Kerangka pemikiran
Hubungan terjadi dalam setiap proses kehidupan manusia. Hubungan merupakan salah satu aktivitas manusia yang sudah berlangsung sejak zaman prasejarah. Walaupun pada waktu itu dapat dikatakan belum dikenal adanya perdagangan, namun aktivitas hubungan dapat dikatakan sebagai bentuk perilaku ekonomi yang merupakan awal terjadinya perdagangan. Hubungan Lampung dengan Banten di panggung sejarah berlangsung dalam kurun waktu yang panjang. Ditemukannya prasasti berhuruf Arab berbahasa Jawa di Lampung, yang menunjukkan kuatnya pengaruh Banten dalam proses penyebaran Agama Islam ke daerah tersebut. Hubungan kuat antara kedua daerah itu disebabkan oleh komoditas, perdagangan lada dan hubungan kekerabatan. Lampung sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil komoditas lada yang merupakan potensi penting di Nusantara, sedangkan Banten adalah bandar lada internasional.
Ekonomi dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah pengetahuan mengenai asas-asas penghasilan produksi, distribusi, pemasaran dan pemakaian barang atau jasa serta kekayaan.[19] Sedangkan menurut Michel P. Todaro Ekonomi adalah ilmu sosial yang berhubungan dengan orang dan sistem sosial, dengan sistem itu ekonomi mengatur segala kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pokok (makanan, pakaian, dan perumahan), dan kebutuhan-kebutuhan yang non-materi (pendidikan, pengetahuan dan kebutuhan lainnya). Banten yang terletak di ujung barat pesisir utara Pulau Jawa, Banten pernah menjadi negara yang secara ekonomi sangat penting karena menghasilkan lada dari kegiatan niaganya.
Banten pada masa itu memperdagangkan sumber daya alamnya yaitu sumber daya alam hayati dan hewani, tetapi yang mengantarkan Banten mencapai puncak keemasannya adalah dari perdagangan sumber daya hayati yang memperjual belikan hasil rempah-rempah terutama lada, yang dibutuhkan oleh pedagang-pedagang dari seluruh negara yang berada di sepanjang pantai Samudera Hindia dan negara di wilayah Laut Cina. Dengan adanya keadaan seperti ini Banten berupaya mempertahakan eksistensinya dalam dunia perdagangan, sehingga Banten memerlukan wilayah lain untuk membantu mengeksploitasi hasil rempahnya dan Lampunglah yang menjadi sasarannya untuk bekerjasama dengan Banten. Dengan tujuan untuk menjamin panen lada yang mencukupi dan kebebasan keluar masuknya kapal-kapal dagang kepelabuhannya.
Secara ekonomi hubungan Banten dan Lampung dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin yang memimpin pemerintahan pada tahun (1552-1570) yang memulai perluasan kebun lada, pada mulanya perluasan wilayah ini dilakukan menuju ke aarah timur namun dibatalkan karena pada masa itu daerah tersebut merupakan wilayah kerajaan Pajajaran dan Kesultanan Cirebon sehingga kekuasaan Sultan Cirebon masih sangat berpengaruh di daerah pedalaman. Kemudian, kemungkinan terbesar perluasan dapat dilakukan ke arah barat laut melalui selat Sunda yaitu ke daerah Lampung.
“Saat itu Lampung dapat dikuasai kemudian dikirimkanlah orang-orang Banten ke Lampung untuk mengusahakan penanaman lada di daerah ini sangat banyak dan menguntungkan , karena tanahnya subur, atas keberhasilannya itu maka Sultan Hasanudin memerintahkan untuk memperluas kebun lada, hal ini berarti memperluas wilayah pengaruh dan kekuasaan kesultanan Banten”.[20]
Sedangkan politik dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah penegetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti sistem pemerintahan, dan dasar pemerintahan.[21] Sedangkan menurut Parson, politik adalah aspek dari semua perbuatan yang berkenaan dengan usaha kolektif bagi tujuan-tujuan kolektif.[22] Kata politik berasal dari Bahasa Arab disebut Asy-syiyasah, yang selanjutnya dterjemahkan dalam siasat. Dalam Bahasa Inggris disebut poitics, politik itu sendiri memang cerdik dan bijaksana, pada dasarnya politik mempunyai ruang lingkup negara, asal mula dari kata polis atau negara kota.[23]
Hubungan politik Banten dan Lampung sebelumnya sudah sering terjadi pada tahun 1500 an dikarenakan adanya kepentingan pemerintahan dari Menak Pati Pejurit dari Pagar Dewa Tua Tuang Bawang dengan Sultan pertama dari Kesultanan Banten yakni Sultan Hasanudin. Ekspansi teritorial ke daerah-daerah yang dilakukan Banten merupakan politik dimana daerah-daerah taklukannya sebagian besar terdiri dari daerah-daerah penghasil lada.
G. Metodologi Penelitian
Pada tahap metodologi penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapan sebagai berikut :
1. Tahapan Heuristik
Tahapan heuristik adalah tahapan pengumpulan data. Kata heuristik berasal dari Bahasa Yunani, yaitu heuriskeun, artinya adalah proses pencarian data atau sumber dari jejak-jejak peristiwa masa lampau. Pada tahapan ini penulis mengumpulkan beberapa sumber dab data yang relevan baik. a). Sumber primer, yaitu sumber dengan penelitian langsung dan b). Sumber sekunder, yaitu yang dapat digunakan dalam menjawab permasalahan yang akan dibahas yaitu buku-buku yang berkaitan dengan judul penelitian tersebut. Kegiatan ini difokuskan pada studi arsip-arsip dokumen, literatur ilmiah, majalah maupun internet yang berkenaan dengan tema penelitian yang diangkat.
Pada tahapan ini penulis melakukan studi pustaka dengan mengunjungi beberapa perpustakaan, seperti perpustakaan pusat IAIN SMH Banten, dan perpustakaan daerah Provinsi Banten, serta koleksi buku pribadi.
2. Tahapan kritik
Tahapan kritik adalah tahapan penyeleksian dan pengujian data baik secara ekstern maupun secara intern. Kritik ekstern dilakukan untuk mengetahui keaslian dari sumber sejarah, sedangkan kritik intern dilakukan untuk menyeleksi materi-materi yang mendukung dalam penelitian ini, sehingga setelah diseleksi penulis bisa mengetahui mana yang menjadi sumber primer dan mana yang menjadi sumber sekunder.
Dari tahapan kritik ekstern dan intern yang dilakukan, sudah dapat diketahui bahwa buku-buku yang dijadikan sumber referensi tersebut termasuk dalam sumber sekunder. Karena buku tersebut ditulis sudah sesuai dengan peristiwa yang dialami oleh para pelaku sejarah.
3. Tahapan Interpretasi
Pada tahapan ini penulis akan menjelaskan atau menafsirkan fakta dan memberikan makna dari peristiwa sejarah tersebut. Sehingga akan memberikan kehidupan kembali dari proses sejarah yang dialami oleh para pelaku sejarah, dan memberikan pengertian mengenai fakta-fakta sejarah sehingga menjadikan satu kesatuan yang benar.
4. Tahapan Historiografi
Sebagai fase terakhir dalam metode sejarah, historografi di sini merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Layaknya laporan penelitian ilmiah, penulisan hasil penelitian sejarah itu hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian, sejak dari awal (fase perencanaan) sampai dengan akhirnya (penarikan kesimpulan).
Berdasarkan penulisan sejarah itu pula akan dapat dinilai apakah penelitiannya berlangsung sesuai dengan prosedur yang dipergunakannya tepat atau tidak, apakah sumber atau data yang mendukung penarikan kesimpulannya memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai atau tidak, dan sebagainya. Jadi dengan penulisan sejarah dapat ditentukan mutu penelitian sejarah itu sendiri.[24]
Untuk mendukung kelancaran dalam penelitian ini dalam pengumpulan data teknik yang digunakan adalah teknik studi kepustakaan dan teknik dokumentasi.
1. Teknik studi kepustakaan merupakan cara pengumpulan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruang kepustakaan, misalnya koran, naskah, majalah, catatan-catatan, kisah sejarah, dokumentasi dan sebagainya yang relevan dengan penelitian.[25] Teknik kepustakaan adalah mencoba mempelajari dan menelaah bukubuku untuk memperoleh data-data yang.
2. Menurut Hadari Nawawi teknik dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui sumber tertulis berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku, teori, dalil-dalil atau hokum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.[26] Dengan menggunakan teknik dokumentasi peneliti berusaha untuk mengumpulkan buku-buku tentang Hubungan Banten dan Lampung Pada abad ke-17.
H. Sistematika Pembahasan
Penelitian ini disusun menjadi lima bab yang terbgai kedalam beberapa sub bab, dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab I, pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review kajian terdahulu, landasan teori dan kerangka penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II, membahas tentang landasan teori, kajian pustaka, dan kerangka pemikiran.
Bab III, kondisi sosil kesultanan banten dan lampung abad XVII, pada bab ini membahas,Letak Georgafis Kesultanan Banten Dan Lampung, Kondisi Sosial Keagamaan Kesultanan Banten Dan Lampung, Peran Pemimpin Banten Dalam Perluasaan Wilayah Di Lampung
Bab IV. tinjauan historis Kesultanan Banten dan Lampung abad XVII, pada bab ini akan membahas mengenai, perjanjian Kesultanan Banten dan Lampung dalam piagam kuripan, analisis hubungan Kesultanan Banten dan Lampung dalam Prasasti Dalung Bojong, hubungan Kesultanan Banten dan Lampung dalam bidang ekonomi, hubungan Kesultaan Banten dan Lampung dalam bidang politik, dampak hubungan Kesultanan Banten dan Lampung bagi masyarakat.
Bab V. kesimpulan, saran-saran dan lampiran
DAFTAR PUSTAKA
A. BUKU
A.Hasmy, A. 1981. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandung: Al Maa’rif.
Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Andriyani, Ria, dkk. 2006. Adaptasi Budaya Masyarakat Lampung. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Budi Utomo, Bambang, dkk. 2011. Atlas Sejarah Indonesia Masa Islam. Jakarta: Direktorat Geografi Sejarah.
Faizin Karimi, Ahmad. 2012. Pemikiran Dan Prilaku Politik K.H Ahmad Dahlan. Gresik: MUHI Press.
Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. 1989. Bandung: Mandar Maju.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. 1991. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka.
Kartodirjo, Sartono. 1989. Pengantar Sejarah Indonesia Baru (1500-1900) dari Emporiumsampai Imperium I. Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat. 1983. Metode Penelitian Masyarakat, Cet Ke-V. Jakarta: Gramedia.
Michrob, Halwany. 1989. Ekspor Impor di Jaman Kesultanan Banten. Serang: Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda).
Michrob, Halwany. 1993. Catatan Sejarah Dan Arkeologi Ekspor Impor, Cet Ke-2. Serang: Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda).
Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.
Sekadjati, Edi. 1985. Sejarah Penyebaran Agama Islam di Pulau Sumatera. Jakarta: Sumber Wida Jakarta.
Untoro, Heriyanti Ongkodharma. 1998. Perdagangan di Kesultanan Banten (1522-1684): Kajian Arkeologi Ekonomi. Disertasi. Depok: PPs UI.
B. JURNAL DAN ARTIKEL
Imadudin, Iim . 2008. Hubungan Lampung-Banten dalam Perspektif Sejarah. Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. Jurnal Penelitian Vol. 40 No. 3 Desember 2008
Imadudin, Iim. 2016. Perdagangan Lada Di Lampung Dalam Tiga Masa (1653-1930). Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, 2016. Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, Patanjala Vol. 8 No. 3. September 2016.
Mulianti, Ali Imron, Wakidi. Tinjauan Historis Hubungan Banten-Lampung Pada Tahun 1525-1619”, Artikel. Bandar Lampung: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Lampung.
Riza Fitriani, Iskandar Syah, Muhammad Basri. Tinjauan Historis Perjanjian Lampung-Banten Yang Menghasilkan Piagam Kuripan Tahun 1552”. Artikel, Bandar Lampung: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Universitas Negeri Lampung.
C. TESIS
Rijal, Andi Syamsu. 2011. Dua Pelabuhan Satu Selat: Sejarah Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni di Selat Sunda 1912-2009. Tesis. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Sejarah Universitas Indonesia.
[1] A.Hasmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Bandung: Al Maa’rif, 1981), h. 286-287
[2] Halwany Michrob, Catatan Sejarah Dan Arkeologi Ekspor Impor, Cet Ke-2,(Serang: Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda), 1993), h. 14
[3]Sartono Kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru (1500-1900) dari Emporiumsampai Imperium I, (Jakarta: Gramedia, 1989), h. 68.
[4] Halwany Michrob, Ekspor Impor di Jaman Kesultanan Banten, (Serang: Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda), 1989), h. 36.
[5] Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung, (Bandung: Mandar Maju, 1989), h. 140.
[6] Iim Imadudin, Perdagangan Lada Di Lampung Dalam Tiga Masa (1653-1930), (Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, 2016). Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, Patanjala Vol. 8 No. 3. September 2016, h. 352
[7] Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung… h. 140-157
[8] Heriyanti Ongkodharma Untoro, Perdagangan di Kesultanan Banten (1522-1684): Kajian Arkeologi Ekonomi. Disertasi. (Depok: PPs UI, 1998), h. 155
[9] Iim Imadudin, Hubungan Lampung-Banten dalam Perspektif Sejarah, dalam Jurnal Penelitian Vol. 40 No. 3 Desember 2008, h. 1476
[10]Andi Syamsu Rijal, Dua Pelabuhan Satu Selat: Sejarah Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni di Selat Sunda 1912-2009. Tesis. (Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Sejarah Universitas Indonesia, 2011), h. 40
[11] Iim Imadudin, Perdagangan Lada Di Lampung Dalam Tiga Masa (1653-1930), (Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, 2016). Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, Patanjala Vol. 8 No. 3 September 2016, h.353
[12] Mulianti, Ali Imron, Wakidi, Tinjauan Historis Hubungan Banten-Lampung Pada Tahun 1525-1619, Artikel. (Bandar Lampung: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Lampung)
[13] Ria Andriyani, dkk, Adaptasi Budaya Masyarakat Lampung, (Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 2006), h. 190
[14] Bambang Budi Utomo, dkk, Atlas Sejarah Indonesia Masa Islam, (Jakarta: Direktorat Geografi Sejarah, 2011), h. 62.
[15] Iim Imaduddin, Hubungan Lampung Dan Banten Dalam Perspektif Sejarah, Jurnal Penelitian, Vol. 40, No, 30 (Desember, 2008), h. 1456-1457
[16] Bambang Budi Utomo, dkk, Atlas Sejarah Indonesia Masa Islam… h. 71.
[17] Riza Fitriani, Iskandar Syah, Muhammad Basri, Tinjauan Historis Perjanjian Lampung-Banten Yang Menghasilkan Piagam Kuripan Tahun 1552. Artikel, (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Universitas Negeri Lampung), h. 3
[18] Riza Fitriani, Iskandar Syah, Muhammad Basri, Tinjauan Historis Perjanjian Lampung-Banten Yang Menghasilkan Piagam Kuripan Tahun 1552… h, 11.
[19] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka, 1991), h, 251.
[20] Edi Sekadjati, Sejarah Penyebaran Agama Islam di Pulau Sumatera, (Jakarta: Sumber Wida Jakarta, 1985), h. 44-45.
[21] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua… h. 780.
[22] Ahmad Faizin Karimi, Pemikiran Dan Prilaku Politik K.H Ahmad Dahlan, (Gresik: MUHI Press, 2012), h. 26.
[23] Ahmad Faizin Karimi, Pemikiran Dan Prilaku Politik K.H Ahmad Dahlan... h, 27.
[24] Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), p.55-67.
[25] Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, Cet Ke-V (Jakarta: Gramedia, 1983), h. 420
[26] Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial. (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press, 1985), h. 134.