MANAJEMEN KEPEMIMPINAN
A. PENGERTIAN MANAJEMEN
Manajemen (Management),
istilah manajemen ini sebenarnya berasal dari bahasa latin / italia yaitu: “menagio” yg artinya: menyiapkan
& mengendalikan kuda. Selanjutnya istilah ini dipakai dalam pelaksanaan
organisasi terutama organisasi non pemerintahan / publik di Amerika Serikat. Sedangkan
di Perancis & di Eropa banyak dipakai istilah administrasi “administration”. Namun kedua
istilah ini sering dipakai secara bersamaan dengan tujuan yg sama.
Manajemen Adalah Ilmu
dan seni mengatur pemanfaatan SDM dan sumber lainya secara efektif dan efesien
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. ( Hasibuan ) Manajemen adalah kegiatan
untuk Memprediksi, merencanakan,
mengkordinasikan,dan mengendalikan ( Fayol ). Manajemen dapat di artikan sebagai ilmu dan
seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Para ahli ekonomi umumnya mempunyai
pengertian yang berbeda tantang manajemen. Dengan demikian sebenarnya manajemen
itu hampir selalu ada pada setiap kegiatan manusia sebab manusia akan selalu
berusaha berkumpul dan bekerja sama.
Fungsi manajemen adalah
elemen dasar yang selalu ada dan melekat dalam proses manajemen yang akan
dijadiakan acuan oleh manajer/pemimpin dalam melaksanakan kegiatan untuk
mencapai tujuan. Fungsi manajemen dapat dilakukan di organisasi manapun.
Proses manajemen didefinisikan sebagai
aktivitas-aktivitas:
»
Perencanaan, formulasi terinci
untuk mencapai suatu tujuan akhir tertentu adalah aktivitas manajemen yang
disebut perencanaan. Oleh karenanya, perencanaan mensyaratkan penetapan tujuan
dan identifikasi metode untuk mencapai tujuan tersebut.
»
Pengendalian, perencanaan hanyalah
setengah dari pertempuran. Setelah suatu rencana dibuat, rencana tersebut harus
diimplementasikan, dan Pemimpin dan bawahannya harus memonitor pelaksanaannya
untuk memastikan rencana tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas manajerial untuk
memonitor pelaksanaan rencana dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan,
disebut kebutuhan.
»
Pengambilan Keputusan, proses pemilihan
diantara berbagai alternative disebut dengan proses
pengambilan keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan jalinan antara
perencanaan dan pengendalian. Manajer harus memilih diantara beberapa tujuan
dan metode untuk melaksanakan tujuan yang dipilih. Hanya satu dari beberapa
rencana yang dapat dipilih. Komentar serupa dapat dibuat berkenaan dengan
fungsi pengendalian.
B. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Stephen Robbins Kepemimpinan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai serangkaian tujuan.
Kata “kemampuan”, “pengaruh” dan “kelompok” adalah konsep kunci dari definisi Robbins.
Menurut Mullins kepemimpinan lebih
menekankan pada konsep “hubungan” yang melaluinya seseorang mempengaruhi perilaku
atau tindakan orang lain. Kepemimpinan dalam definisi yang demikian dapat
berlaku baik di organisasi formal, informal, ataupun nonformal. Asalkan
terbentuk kelompok, maka kepemimpinan hadir guna mengarahkan kelompok tersebut.
Kepemimpinan adalah suatu kondisi sebagai hasil suatu proses
interaksi atau mempengaruhi antara pemimpin, pengikut & situasi.
Proses interaksi terjadi terus-menerus sehingga kepemimpinan bukan suatu yg
sederhana, tetapi sesuatu yg kompleks. Dari 3 hal tersebut, pemimpin mempunyai
peran yg sangat penting karena mempunyai kelebihan terhadap pengikutnya &
mempunyai kemampuan untuk membuat situasi kondusif atau sebaliknya.
Kepemimpinan sebagai suatu seni (artistry)
selain pengetahuan atau ketrampilan. Dari makna kepemimpinan diatas dapat ditarik
sejumlah konsep penting yaitu:
- Kepemimpinan merupakan sebuah,
- Kepemimpinan melibatkan
pengaruh,
- Kepemimpinan muncul dalam
kelompok,
- Kepemimpinan mellibatkan tujuan bersama.
C. PANDANGAN KEPEMIMPINAN
· Seorang
yang belajar seumur hidup,
Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya,
belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai
pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
· Berorientasi
pada pelayanan, Seorang pemimpin
tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpin dengan prinsip melayani
berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin
seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.
· Membawa
energi yang positif, Setiap orang mempunyai
energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan
dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi
positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin harus dapat dan mau
bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh karena
itu, seorang pemimpin harus dapat menunjukkan energi yang positif.
· Percaya
pada orang lain, Seorang pemimpin
mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga mereka mempunyai
motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena itu, kepercayaan
harus diikuti dengan kepedulian.
· Keseimbangan
dalam kehidupan, Seorang pemimpin harus dapat menyeimbangkan
tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara
kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang
antara kehidupan dunia dan akherat.
· Melihat
kehidupan sebagai tantangan, Kata ‘tantangan’ sering di interpretasikan negatif. Dalam hal
ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala
konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan,
mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung
pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan
kebebasan.
· Sinergi, Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam
sinergi dan satu katalis perubahan. Mereka selalu mengatasi kelemahannya
sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua
belah pihak. Menurut The New Brolier Webster International Dictionary, Sinergi
adalah satu kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada
bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap
orang atasan, staf, teman sekerja.
· Latihan
mengembangkan diri sendiri,
Seorang pemimpin harus dapat
memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia
tidak hanya berorientasi pada proses. Proses daalam mengembangkan diri terdiri
dari beberapa komponen yang berhubungan dengan:
ü Pemahaman materi;
ü Memperluas materi melalui belajar dan
pengalaman
ü Mengajar materi kepada orang lain;
ü Mengaplikasikan prinsip-prinsip;
ü Memonitoring hasil;
ü Merefleksikan kepada hasil;
ü Menambahkan pengetahuan baru yang diperlukan
materi;
ü Pemahaman baru; dan
ü Kembali menjadi diri sendiri lagi.
Mencapai kepemimpinan
yang berprinsip tidaklah mudah, karena beberapa kendala dalam bentuk kebiasaan
buruk, misalnya:
- Kemauan dan keinginan sepihak;
- Kebanggaan dan penolakan;
dan
- Ambisi pribadi.
D. JENIS – JENIS KEPEMIMPINAN
Menurut Hasibuan (2002) Ada beberapa jenis
kepemimpinan yang antara lain adalah:
1. Kepemimpinan Otoriter
Adalah jika kekuasaan atau
wewenang sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau pimpinan itu
mengganti sistem sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijakan
hanya ditetapkan sendiri oleh pimpinan.
2. Kepemimpinan
Partisipatif
Kepemimpinan
partisipatif adalah apabila di dalam kepemimpinannya dilakukan secara persuasif,
menciptakan kerjasama yang serasi, menumbuhkan realitas dan pertisipasi para
bawahan, pemimpin motivasi bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan.
Pemimpin dengan cara partisipatif akan mendorong kemampuan bawahan hal
mengambil keputusan. Dengan demikian, pemimpin yang selalu membina bawahan
untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.
3. Kepemimpinan Delegatif
Kepemimpinan delegatif
apabila seorang pemimpin mendelegasikan wewenang kepada bawahan dengan agak
lengkap dengan demikian bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan
dengan bebas atau leluasa dalam melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin yang tidak
peduli cara bawahan mengambil keputusan dan mengerjakan pekerjaannya,
sepenuhnya diserahkan kepada bawahan.
4. Kepemimpinan Situasional
Fokus pendekatan situasional
terhadap kepemimpinan terletak pada perilaku yang diobservasi atau perilaku
nyata yang terlihat, bukan pada kemampuan atau potensi kepemimpinan yang dibawa
sejak lahir. Penekanan pendekatan situasional adalah pada perilaku pemimpin dan
anggota dan pengikut dalam kelompok dan situasi yang variatif. Menurut
kepemimpinan situasional tidak ada satupuun cara terbaik untuk mempengaruhi
orang lain.
E.
Macam – macam Tipe Kepemimpinan
1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan
karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa
untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar
jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik
dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan
yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa.
Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan
teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan
pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
2. Tipe Kepemimpinan
Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan
paternalistik
lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat
sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum
dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka bersikap terlalu
melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk
mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah memberikan
kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif, (5) mereka memberikan atau hampir
tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk
mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri, (6) selalu
bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe
kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan
paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat
sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol
disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.
3. Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini
sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe
kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem
perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang
bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi
formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan,
(4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak
menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6)
komunikasi hanya berlangsung searah.
4. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative,
Dominator)
Kepemimpinan otokratis memiliki
ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak
yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal,
(3) berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan kebijakan selalu
ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail
tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua pujian dan kritik
terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi, (7) adanya
sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara absolut, (9) sikap dan
prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan
bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
5. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan
ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap
orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam
kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh
bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki
keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah,
tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana
kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya diperoleh dengan
cara penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh karena itu
organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.
6. Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis
berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai
dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini
mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
7. Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Ialah kepemimpinan
yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif.
Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur
yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu
dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam
pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis
yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah
masyarakat.
8. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan
demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien
kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan,
dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan
kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada
pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga
kelompok.
Kepemimpinan demokratis
menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti
bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya
masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin
pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Pada dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan suatu hal
yang mutlak untuk diterapkan, karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan
itu memiliki keunggulan masing-masing. Pada situasi atau keadaan tertentu
dibutuhkan gaya kepemimpinan yang otoriter, walaupun pada umumnya gaya
kepemimpinan yang demokratis lebih bermanfaat.
Oleh karena itu dalam
aplikasinya, tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan
diterapkan dalam keluarga, organisasi / perusahan sesuai dengan situasi dan
kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk
mendapatkan manfaat.
